Dosa Membicarakan Kejelekan Orang

Thursday, 26 June 2014 00:00 Written by  Published in Renungan Read 30376 times
dr. Wahyudi Widada, M.Ked (kiri) bersama Candra P. Pusponegoro saat memberikan ceramah tentang Mukjizat Bekam di Mega Mall Batam Center, Kepulauan Riau pada Ramadan tahun lalu dr. Wahyudi Widada, M.Ked (kiri) bersama Candra P. Pusponegoro saat memberikan ceramah tentang Mukjizat Bekam di Mega Mall Batam Center, Kepulauan Riau pada Ramadan tahun lalu

Seorang muslim harus menjalankan syariat dengan benar dan ikhlas. Selain itu, menjaga sikap dan sifat tercela adalah sebuah keharusan.

Ada sebuah kebiasaaan yang sering dilakukan tanpa disadari, yakni membicarakan aib orang lain. Terlalu asyik diskusi dan curhat, terkadang seseorang terjerumus membicarakan kejelekan orang lain.

Tidak sedikit mereka yang mengaku muslim namun dengan sengaja masih menggunjing kekurangan orang lain. Bahkan di antara umat Islam memperolokkan sesama muslim lainnya merupakan kebiasaan. Na 'udzubillah min dzalik.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, seseorang yang tidak bersalah merasa dirinya suci. Lalu bergembira atas kesalahan dan kelemahan orang lain itu.

Tidak jarang juga, kesalahan-kesalahan orang lain yang kita tidak tahu kebenarannya disampaikan kepada orang lain. Secara umum, tidak ada manusia satu pun di muka bumi ini yang suci, pasti pernah melakukan sebuah kesalahan.

Membuka aib orang lain merupakan perbuatan yang sangat keji. Selain tercela, perbuatan tersebut adalah dosa besar.

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: "Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan ditutupi aibnya di dunia dan di akhirat" (HR. Ibnu Majah Juz II/79, shahih).

"Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit" (HR. Muslim 2674)

Allah Azza Wa Jalla juga berfirman yang artinya;

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia" (QS. An Nisa' 114).

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam sangat mewanti-wanti kepada umat muslim untuk menutupi rahasia (kejelekan) sudara muslim lainnya. Dalam sabda rasulullah disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu yang artinya;

"Tahukah kamu apakah ghibah atau menceritakan aib orang lain itu? Maka para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan: Yaitu kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci? Maka ada sebagian sahabat yang bertanya: Beritahukan kepada kami, bagaimana jika yang saya katakan ada padanya? Beliau nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Jika yang kamu katakan ada padanya, maka kamu telah berbuat ghibah, dan jika tidak ada padanya apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta padanya" (HR. Muslim).

Dari penjelasan di atas telah banyak larangan-larangan yang bersumber kepada Al Qur'an dan hadis tentang membuka aib orang lain. Secara psikologis, membuka dan membicarakan aib orang lain merupakan gangguan kepribadian yang harus segera diobati.

Sebab jika tidak segera di atasi maka akan memunculkan penyakit hati dan berujung kepada kekufuran. Lebih baik kita meluruskan niat dan mengoreksi ibadah kita sendiri. Ambil cermin dan lihatlah kesalahan dan kelemahan kita.

Sudah banyak Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita, tidak terhitung betapa kasih dan rahmat Allah kepada kita sehingga keburukan-keburukan kita dilindungi-Nya. Selama akil baligh juga setiap tahun kita selalu melewati dan menjalani puasa Ramadan. Dalam madrasah Ramadan umat muslim didik untuk selalu jujur, amanah, dan meninggalkan sifat buruk lainnya.

Sayangnya, Ramadan yang sudah dilewati dari masa ke masa masih belum membawa perubahan dan pencerahan. Buktinya, kita masih sering berbohong (dusta), khianat, dan menyebarkan kabar bohong (HOAX) atau mengadu domba. Allah Azza Wa Jalla berfirman di dalam surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya;

"Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya".

Memang pada kenyataannya untuk mencegah perbuatan dan sifat buruk sangat berat godaannya. Tetapi Allah Azza Wa Jalla sudah memberikan akal untuk memilih, yang paling penting niat dan ikhtiar merupakan sesuatu yang sangat wajib. Maka dari itu, apabila ada saudara muslim di sekeliling kita suka menceritakan kejelekan (aib), maka kewajiban kita adalah mengingatkan dan mencegahnya.

Saudaraku seiman, kita ini manusia yang lemah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa salah, dosa, dan kekurangan. Maka dari itu, jadilah hamba-hamba Allah yang saling mengingatkan dan memaafkan kesalahan orang lain, bukan menjadi hakim atas kesalahan dan aib orang lain.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dari Anas, ketika aku (Rasulullah) dinaikkan (mikraj), aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku dari kuningan, mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri, maka aku (Rasulullah) berkata;

"Siapa mereka itu, wahai Jibril? Maka Jibril pun menjawab: Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (membicarakan aib) dan menyentuh kehormatan mereka" (HR. Abu Daud).

Dari penjelasan hadis di atas, maksudnya adalah haram (terlarang) bagi seorang muslim untuk membunuh, memakan harta, atau melecehkan kehormatan muslim lainnya dengan cara yang tidak dibolehkan secara syariat.

Menceritakan aib orang lain termasuk dosa besar dan termasuk maksiat yang paling tersebar di kalangan kaum muslimin saat ini. Celakanya, kita masih sering menganggap remeh temeh permasalahan ini, sehingga timbul permusuhan di antara mereka.

Ghibah atau membicarakan kejelekan atau keburukan orang lain. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya permusuhan dan merusak persaudaraan di antara mereka. Karena buruknya perbuatan ghibah ini Allah mengumpamakan orang yang berbuat ghibah sama dengan orang yang memakan daging saudaranya dalam keadaan mati.

Sanksi baginya, bahwa dia di alam barzakh (alam antara kehidupan dan hari kiamat), mereka akan mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri.

Perbuatan ghibah termasuk dosa besar. Kemudian menyebut orang lain dengan sesuatu yang dia benci adalah termasuk ghibah yang haram dilakukan, walaupun hal itu benar-benar ada pada orang tersebut. Selain itu haramnya mendengarkan ghibah, karena orang yang mendengarkan telah membantu saudaranya untuk ghibah dan ridha dengan ghibah tersebut.

Kita sebagai muslim wajibnya mengingkari orang yang berbuat ghibah dan melarangnya dari perbuatan tersebut. Alasannya, sangat pedih sanksi bagi orang yang suka ghibah di alam barzakh nanti. Dengan melindungi kehormatan seorang muslim, Allah akan memelihara mukanya dari api neraka pada hari kiamat.

Ayo STOP GHIBAH, STOP MENCACI MAKI, STOP HOAX, STOP MERENDAHKAN ORANG LAIN, STOP KEBURUKAN lainnya. Mari terus muhasabah diri hingga mencapai derajat muslim yang taat, baik, dan bermartabat.

Saksikan kami dari TV Trans7 Jakarta

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Berdiri Sejak Tahun 1999 | Pengobatan Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Medis & Non Medis (Gangguan Jin/Setan/Sihir) & Lain-lain | Pelopor: #BEKAMSTERIL #BEKAMPISAUBEDAH #TIDAKPAKAIJARUM #TIDAKPAKAISILET | Alamat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Batam, Kepulauan Riau, Indonesia| Call/SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@bekam.or.id | Melayani Panggilan Antarkota Dalam & Luar Provinsi - Luar Negeri | Daftar Pasien Online Klik Di Sini!