Friday, Apr 19

Kisah Hakim Buka Bersama di Gereja Featured

    Muhammad Nur Hakim (kaos kuning, dua dari kiri) saat buka bersama di sebuah gereja di kota Rochester Minnesota Amerika SerikatMuhammad Nur Hakim (kaos kuning, dua dari kiri) saat buka bersama di sebuah gereja di kota Rochester Minnesota Amerika Serikat

    Menjalani ibadah puasa di negara yang memiliki penduduk muslimnya minoritas boleh dibilang ‘menyedihkan’. Hal ini terjadi saat pelaksanaan ibadah Ramadan di Amerika Serikat.

    Selain susah mencari masjid untuk pelaksanaan ibadah solat tarawih, agenda buka puasa bersama (iftor jama’i) jarang sama sekali.

    Salah seorang pelajar Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di kota Rochester negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, Muhammad Nur Hakim, menyebutkan puasa tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya.

    Tahun 2010 lalu dirinya bisa salat tarawih, tadarus, sahur dan buka bersama keluarga, teman, atau anak-anak yatim piatu.

    Tetapi kali ini, dia harus menjalani aktivitas sahur dan buka puasa seorang diri. Begitu juga saat ingin melakukan salat tarawih berjemaah di masjid.

    Dia harus berangkat sendiri dengan menempuh waktu lebih dari 30 menit. Sehingga bagi pelajar sepertinya, dia harus berjuang ekstra supaya bisa lebih mandiri dan percaya diri.

    “Alhamdulillah, saat ini waktu puasanya lebih lama karena bertepatan dengan musim panas (summer) sehingga untuk menunggu waktu malamnya lebih lama."

    "Memang saat puasa pertama rasanya sangat berat, bahkan awal pertama Ramadhan kemarin saya menjalani puasa dalam keadaan sakit,” ujar Muhammad Nur Hakim saat dihubungi penulis.

    Pertama kali dirinya berpuasa cukup kepayahan dan perlu adaptasi. Menurutnya, ada benarnya hidup di negara orang itu sulit pada permulaannya, namun bukan berarti tidak ada akhirnya.

    Setelah puasa hari pertama dan kedua terlewati, semua keadaan kembali normal. Sehingga dirinya mampu menjalankan puasa dengan semangat dan nyaman.

    Baginya, ada kesan yang sudah didapatkan selama ini. Hari pertama dan kedua puasa dia bisa bangun sendiri untuk makan sahur.

    Tetapi hari berikutnya kembali kepada sifat aslinya, yakni susah untuk bangun pagi. Sehingga ‘bapak asrama’ yang bukan muslim turut membangunkan dirinya saat pukul 4.00 pagi dan menyuruh dia untuk sahur.

    “Buka puasa di sini pukul 8.00 malam, dua jam lebih lama dibandingkan di Indonesia. Makanan di sini enak dan bervariasi, sekalipun tidak sering makan nasi setidaknya bisa membuat perut kenyang. Yang penting makanan itu dapat mengembalikan kondisi badan agar tetap segar setelah seharian berpuasa,” papar Muhammad Nur Hakim.

    Seperti ‘pakem’ selama di tanah air, dia berkeinginan untuk melakukan buka bersama komunitas muslim lainnya.

    Untuk itu, dia mencari informasi dari teman-teman muslim lainnya, Rashed Ferdaus. Setelah mendapat banyak informasi, dirinya sering melakukan kegiatan-kegiatan selama, seperti tadarusan maupun kajian agama.

    Saking semangatnya, dia pernah mendapatkan ‘hadiah’ yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Di tanah air, kegiatan buka puasa lazimnya dilakukan di masjid.

    Namun kemarin, dirinya mengikuti acara buka bersama di sebuah gereja yang diikuti sekitar 5.000 orang jemaah muslim dari negara mana saja.

    “Miris saat itu, saya mengikuti buka puasa bersama ternyata acaranya dilakukan di sebuah gereja. Setelah saya cari tahu, warga muslim menyewa sebuah gereja karena masjid di sini kecil dan jumlahnya cuma dua, sehingga tidak bisa menampung jemaah muslim yang terlampau banyak,” urai Muhammad Nur Hakim.  

    Mengenai masalah libur sekolah, di sini sangat berbeda dengan di Batam, Jakarta atau kota lain di Indonesia.

    Jangankan mengharap liburan sebelum puasa atau pascalebaran nanti, untuk mendapatkan libur satu hari saja sangat sulit.

    Jadi kalau ingin libur terpaksa harus ‘mbolos’ (tidak masuk tanpa standar izin baku). Begitu juga saat malam takbiran nanti, biasanya di tanah air sudah heboh dan tumpah ruah di jalan.

    Jangan harap di sini bisa seperti itu, yang ada hanya kesunyian. Untuk takbiran nanti, kata dia, dirinya akan mendengarkan takbiran dari notebook. Sehingga nuansa takbiran tetap bisa dinikmati meski tidak seperti di tanah air.

    Bekam Batam Ruqyah Batam Bengkel Manusia Indonesia

    Bekam Batam Ruqyah Batam Bengkel Manusia Indonesia Bukan Sembarang Bekam...! sangat profesional, ahli, dan berpengalaman selama 30 tahun mengobati penyakit medis, seperti diabetes, ginjal, jantung, stroke, migrain & selainnya. Untuk penyakit gaib di antaranya akibat gangguan iblisjinsyaithonad dajjalal ’ainsihirblack magic atau selainnya klik: www.ruqyah.or.id | Klik: Daftar Pasien Online | Call (+62) 813-2871-2147 Email: info[at]bekam.or.id | Office: Town House Anggrek Sari Blok G-2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Batam, Indonesia | Google map klik: https://goo.gl/maps/eTQn6pjiMaBgfT2K8 | Branch Head: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Pekanbaru | Melayani Panggilan di Seluruh Kota di Dalam dan Luar Negeri | Baca Ulasan: Bekam Jarum Menyelisihi Dalil | Di Sini Penjelasan: Bekam Itu Sayatan dan Bukan Tusukan | Kata mereka setelah bekam (ruqyah) di Bengkel Manusia Indonesia Bukan Sembarang Bekam...! klik di sini:  https://www.bekam.or.id/kata-mereka.html | Anda ingin menyalurkan dam, zakat mal, hadiah, infak, sedekah, hibah, nazar, atau yang lainnya Anda bisa menitipkannya melalui rekening BCA 579-0159-154 (konfirmasi) atau kunjungi Yayasan An Nubuwwah Batam atau www.an-nubuwwah.or.id