Pingsan Mengelilingi Ka'bah

Monday, 17 June 2019 23:23 Written by  Published in Wisata Read 3781 times
Fauzan bin Dahlan Muhammad Fauzan bin Dahlan Muhammad

Prosesi ibadah umrah ke tanah suci di Kota Mekkah dan Madinah Arab Saudi membutuhkan fisik yang ekstra dan baik.

Selama berada di sini, jemaah akan bertemu dengan suhu panas dan dingin yang ekstrem. Apabila tidak memiliki persiapan, umumnya mereka akan mengalami gangguan kesehatan fisiknya.

Apabila gejala batuk, pilek, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), diare, atau gangguan lain menghampiri tentu akan mengganggu aktivitas peribadatan.

Untuk itu, selama berada di tanah suci, setiap jemaah diwajibkan mempersiapkan kesehatan dirinya. Tujuannya, selama ibadah tidak timbul rasa sakit.

Pada bulan Juli hingga Agustus 2012, suhu Kota Madinah dan Mekkah tidak jauh berbeda. Artinya titik terendah, suhu mencapai 29° celcius dan tertinggi 44°celcius.

Siang hari, terik matahari terasa sangat panas dan malam harinya terasa lebih dingin. Jika calon jemaah tidak memiliki persiapan maka dimungkinkan bisa terserang sakit.

Kendati demikian, calon jemaah umrah yang baru pertama kali bertandang ke sini harus memperhatikan kesehatannya.

Di antaranya harus memperbanyak minum air zam-zam, tidak boleh terlalu sering berada di tempat panas (terbuka), begadang, telat makan, atau terlalu memforsir tenaga. Terlebih jika umrah dilakukan selama puasa Ramadan.

Menurut pengalaman jemaah umrah dari PT. Nettour Batam, H. Mohamad Nur mengatakan, apabila sudah berada di tanah suci sebaiknya jangan terlalu sering berada di halaman terbuka.

Alasannya, suhu panas terik bisa mengakibatkan kulit ari pada bagian wajah, tangan, atau kaki bisa mengelupas dan bersisik.

“Suhu panas yang berlebih bisa mengakibatkan pusing, kulit ari mengelupas, dan bersisik. Walaupun jemaah sudah mengenakan pelindung sinar ultraviolet (sunblock) tetap saja akan mengelupas karena paparan sinar matahari,” jelas Mohamad Nur yang sudah menunaikan ibadah haji tahun 1995 dan 2009 lalu, Rabu (8/8/2012).

Dia menyarankan, sebaiknya jika jemaah hendak berangkat ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tidak pada saat terik. Mereka bisa berangkat pada pagi hari dan pulang sore.

Kemudian jika sudah berada di dalam masjid agar menikmati proses ibadah dengan khusyuk. Apabila terpaksa ingin bepergian sebaiknya sore atau malam hari.

Senada juga dikatakan Ustaz Syukron Azis, salah seorang warga Bone Sulawesi Selatan yang sudah bermukim di Mekkah selama 17 tahun silam di Makkah.

Dia mengatakan, ibadah haji atau umrah tidak hanya mengandalkan doa-doa semata. Akan tetapi justru aktifitas fisik yang cukup berat selama berada di tanah suci.

Kegiatan itu antara lain berjalan mengelilingi Kabah (thawaf), berulang-ulang mendatangi bukit Shafa dan Marwah (sa’i), dan beberapa rangkaian ibadah lainnya.

Menurut pengalaman Azis selama di sini, sebelum jemaah bertolak ke Arab Saudi, sebaiknya mereka melakukan olahraga fisik di tanah air.

“Latihan fisik di tanah air seperti lari pagi, sepeda santai, fitness, atau yang lainnya akan melatih tubuh menjadi lebih kuat. Sangat bagus jika sering melakukan lari pagi selepas salat subuh. Dengan olahraga lari akan menguatkan jantung, pergelangan kaki, lutut, dan otot-otot paha,” jelas Azis.

Masih menurut Azis, ibadah thawaf dan sa’i ini membutuhkan ketahanan fisik yang ekstra. Meski jalan yang dilalui selama proses sa’i datar, jarak antara bukit Shafa dan Marwah cukup panjang yakni ± 450 meter.

Jika dikalikan 7 kali putaran, maka jemaah akan menempuh jarak sepanjang 3.150 meter (3,15 kilometer).

Sedangkan sebelum melakukan tahapan sebelum sa’i, jemaah harus melakukan thawaf sebanyak 7 kali putaran. Jika diukur secara satuan meter, prosesi thawaf sekali putaran menempuh jarak sejauh ± 500 meter.

Sehingga total thawaf selama rukun haji atau umrah dikerjakan, sepanjang 3.500 meter (3,5 kilometer).

“Selama haji atau umrah dikerjakan, masing-masing jemaah harus menempuh perjalanan thawaf dan sa’i sepanjang 6.650 meter (6,65 kilometer). Jika kondisi fisik tidak kuat, dipastikan mereka akan gagal melakukan rukun yang wajib ini,” ulas Azis.

Untuk itu, kata pria yang sudah sering membimbing calon jemaah haji atau umrah, selain berolahraga, masih ada cara agar tubuh bisa sehat dan segar.

Yakni dengan mengonsumsi buah dan sayuran. Artinya, selama prosesi ibadah umrah berlangsung, jemaah harus mengonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna.

Harapannya, dengan konsumsi makanan itu akan membuat metabolisme tubuh menjadi baik. Jika tubuh banyak mengeluarkan keringat maka perbanyak minum air zam-zam untuk mengganti cairan tubuh.

Dia juga menyarankan agar menghindari makanan yang berlemak karena dapat memicu kolesterol jahat (LDL) naik.

“Jika kolesterol tidak normal akan mengakibatkan otot-otot kaku. Akibat lainnya, tubuh tidak leluasa bergerak sehingga menjadikan jemaah malas melakukan ibadah,” jelas Azis menambahkan.

Terpisah, jemaah asal PT. Nettour Batam dari Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau, Fauzan bin Dahlan Muhammad menuturkan jika dirinya pernah pingsan saat melakukan prosesi thawaf.

Diakuinya, selama ritual thawaf dan sa’i memang terkesan mudah dan sederhana. Namun setelah dipraktikkannya, prosesi dua ibadah itu membutuhkan kondisi tubuh prima.

“Pada umrah Ramadan saya yang pertama ini saya pingsan saat thawaf pada putaran ketiga. Saat itu tiba-tiba gelap dan saya terjatuh. Prosesi rukun ibadah ini benar-benar harus dikerjakan dengan kondisi badan yang sehat,” jelas pria berusia 72 tahun itu. (Catatan Perjalanan Ibadah Umrah Agustus 2012)

Bengkel Manusia Bukan Sembarang Bekam...!

Berdiri Sejak 1999 | Pengobatan Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Medis & Non Medis (Gangguan Jin/Setan/Sihir) & Lain-lain | Pelopor: #BEKAMSTERIL #BEKAMPISAUBEDAH #TIDAKPAKAIJARUM #TIDAKPAKAISILET | Alamat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Batam Kepulauan Riau Indonesia | Call/SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@terapioksidan.or.id | Melayani Panggilan Antarkota Dalam & Luar Provinsi - Luar Negeri | Menerima Pasien Rawat Inap dari Dalam dan Luar Negeri | Untuk Reservasi Online: Klik Di Sini