Mata Saya Tak Jadi Buta Featured

Sunday, 30 June 2019 22:42 Written by  Published in Testimoni Read 10059 times

Dalam sebuah kesempatan senggang saya menerima telepon dari nomor luar Batam. Setelah saya cek nomor itu berasal dari Bandung Jawa Barat. Berkali-kali telepon berdering, namun tidak sempat saya angkat karena HP saya silent dan saya sedang melakukan aktifitas.

Selesai mengerjakan aktifitas saya, saya buka ponsel dan melihat banyak nomor masuk tidak ada namanya. Satu per satu saya balas ke masing-masing nomor melalui pesan singkat (SMS) dan What’sApp (WA).

Semuanya bertanya tentang kesehatan. Ada juga yang menelepon balik. Nah nomor dari Bandung ini adalah seorang bapak. Suaranya besar dan serius. Dia menanyakan apakah benar ini tempat terapi oksidan (Oxidant Releasing Therapy). Saya jawab benar. Apa yang bisa saya bantu, tanya saya.

Dia pingin sekali bersilaturahim saat itu juga. Saya pun mengiyakan dan janjian di sebuah masjid yang dekat dengan tempat saya praktik. Sengaja saya pakai celana jeans dan kaos berkerah. Nyentrik modelnya. Saya janjian jumpa setelah salat Ashar di masjid.

Benar. Rupanya dia datang bersama istrinya. Bapak ini terlihat sangat alim. Karena paras dan penampilannya sangat islami. Jenggotnya lebat dan panjang menjuntai sekitar 11 centimeter. Ternyata sebelum ketemu, rupanya saat solat Ashar bapak itu berada di sebelah kanan saya.

Dengan wajah agak penasaran, dia memandang saya. Mungkin agak aneh melihat penampilan saya yang gaul seperti anak-anak muda. Gondrong dan terlihat urakan. Lalu dia menjabat tangan saya dan mengenalkan diri. Saya dari Jawa Timur mas, dan istri saya ini orang Sunda.

Dia bertanya lagi, apa benar mas/bapak adalah ahli pengobatan, dia meyergah saya dengan penasaran. Dia juga canggung memanggil saya dengan kata mas atau bapak. Coba ceritakan tentang pengobatan yang dilakukan.

Saya sudah banyak membaca artikel yang ada di website www.terapioksidan.or.id, kata bapak itu penasaran. Saya pun mengawali dengan kalimat yang sedehana. Insya Allah. Semua ada obatnya jika kita yakin dan berserah diri sama Allah.

Tidak ada jalan keluar dalam persoalan hidup ini kecuali dengan tawakal. Kemudian bapak dan ibu itu tambah penasaran. Saya bisa menerjemahkan mimik bapak dan ibu itu. Mungkin bagi mereka, penampilan saya ini dianggap meragukan.

Maklum, orang selalu terkesima dengan penampilan. Jika dia seorang tabib atau dokter, tentu asumsinya rapi dan keren. Tapi ini tidak, dia berjumpa saya dengan kondisi serampangan. Bahkan saat itu rambut saya gondrong dan terurai.

Ya seperti pemusik yang rambutnya acak-acakan tak terawatt begitu. Lalu saya mengatakan; dapatkah bapak/ibu atau memelajari sesuatu wujud secara benar hanya dengan menelaah lapis luarnya? Dapatkah meramalkan bagaimana rasa anggur hanya dengan melihat seratnya?

Akhirnya bapak dan ibu itu manggut-manggut dan yakin. Baiklah mas jika mas ahlinya, saya mau berobat. Saya jawab: oh tidak bisa sekarang saya menolaknya. Dia bertanya pada saya kenapa enggak bisa sekarang, tanyanya keheranan? Lalu saya suruh mereka pulang.

Saja jawab, bapak dan ibu niatnya dari rumah hanya pingin silaturahmi dan berkenalan sama saya, niatnya bukan untuk berobat. Kalau mau berobat ke sini, silakan niat dari rumah dan tidak usah mampir-mampir sebelum sampai sini. Itu syaratnya. Akhirnya mereka pulang.

Dua jam setelah bertemu, rupanya dia menelepon lagi. Katanya habis magrib mau berobat. Saya iyakan, tapi diterapinya habis solat Isya. Karena antara Magrib dan Isya itu waktu yang “nanggung”. Akhirnya mereka bersedia. Aha, ternyata saya berjumpa lagi di masjid jelang salat Isya.

Alhamdulilah, habis Isya saya ajak keduanya ke tempat praktikum. Sekitar lima menit dari masjid sampailah di lokasi praktik. Saya persilakan keduanya masuk. Sebelumnya saya suruh isi formulir pasien karena ini sebagai arsip kantor saya.

Dalam isian formulir, si bapak tidak ada sakit. Sedangkan si ibu mengalami diabetes. Cuma waktu ditanya sudah lama tidak cek gula darah. Tidak lama kemudian keduanya pun menjalani terapi. Dua puluh menit berlalu, alhamdulillah selesai. Plong dan ringan, kata mereka.

Saya bilang kepada mereka, tiga hari lagi silakan datang. Syaratnya sama, niatkan dari rumah jika ingin berobat ke sini dan jangan mampir-mampir kecuali ke masjid. Sama, mereka menjalani terapi selama lima belas menit. Tapi mereka datang siang sebelum waktu Dzuhur.

Saat terapi lanjutan kedua, lebih cepat waktunya. Mengapa, ini adalah lanjutan dan tidak perlu ke lain-lainnya. Intinya fokus pengobatan kepada persoalan yang mereka alami. Selama proses terapi ini mereka tidak banyak bercerita. Sang bapak hanya mengaji dan melatunkan zikir.

Waktu saya lihat di sebelah istrinya, dia membawa alquran kecil dan mengaji di ruangan praktik. Alhamdulillah saya senang, karena ini barokah bagi saya dan ruangan kerja saya. Sebuah keberuntungan dan jarang-jarang pasien seperti mereka ini.

Sama juga, usai terapi mereka minta izin pulang. Sambil bersalaman, bapak itu membisikan di telinga kiri saya: luar biasa karomah Anda. Mereka langsung turun tangga dan pamitan. Saya pun heran, kenapa bapak itu bilang demikian. Spontan saya berdoa: Ya Rahman Ya Rahim, sehatkanlah mereka.

Tiga hari kemudian mereka datang lagi. Setelah janjian lewat telepon mereka datang usai salat Dzuhur, pukul 13.50 WIB. Saya pun sudah standby di ruang praktik. Saya persilakan masuk dan tidak banyak berbicara langsung terapi lanjutan ketiga.

Belum selesai proses terapinya, baru berjalan sepuluh menit tiba-tiba ibu yang saya terapi berujar. Saya bisa melihat, saya bisa melihat lagi, ujar ibu itu histeris berurai air mata. Suaminya yang sedang mengaji di sebelahnya langsung berhenti dan memeluknya.

Suasana hening. Hanya isakan tangis terdengar di ruangan. Derai air mata membanjir dari keduanya. Mereka berpelukan erat sekali sambil terisak-isak. Ternyata bapak yang menerapi saya masih muda sekali. Ganteng juga. Saya kira bapak sudah tua sepantaran kami, kata ibu sambil mengelap air matanya.

Saya diam dan tercengang saat itu. Dalam hati saya membaca tasbih, tahmid, dan tahlil. Tidak ingin mengganggu suasana romantic dan dramatis ini, saya tetap melanjutkan terapinya. Hingga proses terapi usai, barulah saya menanyakan kembali kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi.

Sambil berurai air mata ibu menceritakan bahwa dirinya sudah lama terkena diabetes. Dia sangat khawatir kalau terserang diabetes akan menjadi buta. Rupanya kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Di usianya yang 54 tahun itu, dia tidak bisa melihat lagi.

Nyaris selama hampir enam bulan tidak bisa melihat, gelap semua katanya. Mata melek tapi tidak bisa melihat. Jika ke mana-mana harus meraba dan pakai tongkat. Suaminya mengisahkan sudah berobat keliling Indonesia. Semua dijalani dengan sabar tiada henti untuk kesehatan istrinya.

Namun Allah belum berkehendak menyembuhkannya. Kata suaminya, justru di tempat pengobatan yang dianggap tidak meyakinkan dan terapisnya terlihat seperti rocker, suaminya baru tersadar. Ternyata  di Bengkel Manusia menjadi tempat terakhir bagi kesembuhannya.

Saya bilang kepada keduanya: saya tidak memiliki karomah bapak dan ibu. Alhamdulillah semua ini adalah rahmat Allah bagi saya yang diberikan untuk bapak dan ibu sekalian. Segala sesuatu itu tergantung kepada niatnya. Jadi, jangan pernah melakukan apapun tanpa niat karena Allah Ta ‘Ala.

Sebelum mereka pulang, saya tes apakah ibu ini benar-benar sudah bisa melihat. Di ruangan saya ini ada banner berisi banya tulisan. Mulai huruf kecil, sedang, besar, dan warna-warni. Foto-foto juga ada dengan variasi yang berbeda-beda.

Lalu saya ambil kertas putih dan pulpen. Saya berikan kepada ibu itu untuk menulis apa yang saya dikte dan tunjuk dari banner. Posisi saya dengan ibu itu berjarak 2,5 meter. Saya berdiri di sebelah banner. Lalu saya tujuk huruf, tulisan, foto, warna, angka, dan lainnya.

Saking detailnya, saya suruh ibu itu menulis kembali isi tulisan di banner mulai dari yang terkecil hingga terbesar. Selama 10 menit ibu itu menyalin tulisan dengan sempurna sesuai isi di banner. Lalu saya minta suaminya mengecek apakah ada yang salah. Ternyata benar semuanya.

Tidak panjang lebar saya berbicara, bapak itu berdiri memeluk saya sangat erat sekali. Sambil terisak-isak, dia berbisik dan mengatakan terima kasih, terima kasih. Allah telah mengembalikan semuanya. Maafkan jika saya salah persepsi tentang semua ini. Dan Allah sudah menjawab semua ini.

Alhamdulillah. Setelah tes tulis dan dikte dari saya, suaminya mengakui jika penglihatan istrinya sudah tidak bermasalah. Lalu mereka minta izin pamit dan saya persilakan mereka pulang. Alhamdulillah tiga hari kemudian mereka telepon kondisinya terus membaik.

Sampai saat ini, mereka sehat. Terakhir telepon saya, kondisinya normal dan tidak ada masalah lagi. Alhamdulillah, semua ini atas rahmat Allah kepada saya dan mereka. Semoga saya dan Anda senantiasa sehat, bahagia, dan sejahtera sepanjang usianya.

Kebutaan Akibat Diabetes  

Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan yang ditandai adanya gangguan pengaturan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang buruk. Tanda khas pada penderita penyakit ini adalah kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung menahun.

Komplikasi mata di Indonesia diperkirakan 8,8 juta orang terkena diabetes dan diprediksi akan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030. Saat ini, Indonesia merupakan negara peringkat ketujuh dengan populasi diabetes terbesar di dunia.

Menurut penelitian, pada tahun 2040 nanti, peringkat ini kemungkinan akan naik menjadi posisi keenam. Tingginya angka penderita diabetes di Indonesia seharusnya diimbangi dengan kesadaran penderita akan gejala komplikasi yang diakibatkan.

Hal ini bertujuan untuk mencegah komplikasi naik ke tingkat yang lebih tinggi dan menjadi semakin parah. Komplikasi penderita diabetes dapat dibagi menjadi dua, yakni komplikasi pada makrovaskuler (jaringan pembuluh darah besar) dan mikrovaskular (jaringan pembuluh darah kecil).

Komplikasi makrovaskuler biasanya menimbulkan penyakit seperti stroke, komplikasi hati dan hipertensi, penyumbatan aliran darah, dan gangguan pada kaki. Komplikasi microvaskuler dapat berakibat pada sakit ginjal, neoropathy atau gangguan fungsi saraf dan gangguan pada kaki.

Ia juga bisa menyerang mata dengan retinopati dan katarak sehingga menyebabkan kebutaan. Sejatinya, komplikasi diabetes terjadi akibat pecahnya pembuluh-pembuluh darah di tubuh karena insulin tak bisa lagi menahan kadar gula darah yang tinggi.

Pembuluh darah yang pecah, bisa jadi menyasar pada otak, jantung, hati, ginjal, pembuluh darah arteri, maupun pembuluh darah pada retina mata. Namun, penghitungan dari masing-masing pusat diabetes retinopati di beberapa kota menunjukkan komplikasi diabetes yang berujung ke mata mencapai 30 persen.

Bengkel Manusia Bukan Sembarang Bekam...!

Berdiri Sejak 1999 | Pengobatan Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Medis & Non Medis (Gangguan Jin/Setan/Sihir) & Lain-lain | Pelopor: #BEKAMSTERIL #BEKAMPISAUBEDAH #TIDAKPAKAIJARUM #TIDAKPAKAISILET | Alamat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Batam Kepulauan Riau Indonesia | Call/SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@terapioksidan.or.id | Melayani Panggilan Antarkota Dalam & Luar Provinsi - Luar Negeri | Menerima Pasien Rawat Inap dari Dalam dan Luar Negeri | Untuk Reservasi Online: Klik Di Sini

More in this category: « Saya Batal Pasang Ring