Bekam Batam Sangat Efektif Menstabilkan Kardiovaskular dan Mengendalikan Tekanan Darah Tinggi
Di tengah meningkatnya kasus hipertensi dan penyakit jantung, bekam (wet cupping) kembali mencuri perhatian.
Bukan sekadar pengobatan tradisional turun-temurun, bekam kini mulai dibahas dalam jurnal ilmiah modern karena dinilai memiliki efek nyata terhadap kesehatan kardiovaskular.
Hal itu dibahas dalam jurnal Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Volume 2 Nomor 1 edisi Januari 2026 dengan E-ISSN 3089-8480.
Penelitian tersebut diterbitkan Januari 2026 dan mengangkat tema hubungan bekam, ruqyah, tekanan darah, dan kestabilan detak jantung.
Artikel ilmiah ini ditulis Andik Isdianto dari Universitas Brawijaya bersama Nuruddin Al Indunissy dari Rehab Hati Foundation, Novariza Fitrianti dari Rehab Hati Malang Kota, dan Abdul Hamid Arif dari Praktisi Thibb Nabawi Indonesia.
Mereka meneliti berbagai literatur medis modern dan sumber pengobatan Islam. Para peneliti menemukan bahwa terapi bekam mampu membantu meningkatkan perfusi atau aliran darah ke organ vital.
Efek tersebut dinilai dapat menurunkan resistensi pembuluh darah perifer, sehingga tekanan darah sistolik maupun diastolik ikut mengalami penurunan.
Menariknya lagi, bekam disebut bukan hanya berpengaruh pada tekanan darah. Terapi ini juga dilaporkan membantu memperbaiki Heart Rate Variability (HRV), yaitu indikator penting kestabilan denyut jantung dan keseimbangan sistem saraf tubuh.
Semakin baik HRV seseorang, semakin baik pula kemampuan tubuh menghadapi stres dan gangguan jantung.
Dalam jurnal tersebut dijelaskan, beberapa penelitian menunjukkan pasien hipertensi mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan setelah menjalani tiga sesi bekam.
Bahkan ada penelitian lain yang mencatat penurunan rata-rata 10–15 mmHg setelah terapi bekam rutin selama empat minggu.
Efek bekam diyakini terjadi karena adanya stimulasi aliran darah dan relaksasi pembuluh darah setelah proses penghisapan.
Bekam juga disebut membantu menurunkan kadar hormon stres kortisol yang selama ini diketahui menjadi salah satu pemicu tekanan darah tinggi dan detak jantung tidak stabil.
Tidak hanya itu, bekam juga dinilai mampu membantu sistem saraf parasimpatis bekerja lebih dominan.
Sistem ini berfungsi membuat tubuh lebih rileks, menenangkan denyut jantung, dan mengurangi ketegangan yang sering muncul akibat stres berkepanjangan.
Para peneliti menyebut bekam semakin relevan di era modern karena banyak orang mengalami tekanan mental, kurang tidur, kelelahan, hingga hipertensi akibat gaya hidup tidak sehat.
Dalam kondisi seperti itu, terapi non-invasif seperti bekam mulai dilirik sebagai pendamping pengobatan medis.
Selain bekam, jurnal ini juga membahas ruqyah sebagai terapi pendamping yang memiliki efek psikologis kuat.
Bacaan Al-Qur’an disebut membantu menurunkan kecemasan, menenangkan pikiran, dan memperbaiki respons stres tubuh yang berhubungan erat dengan tekanan darah serta detak jantung.
Peneliti menemukan bahwa mendengarkan tilawah atau ruqyah selama 15–20 menit dapat membantu menurunkan tekanan darah dan denyut nadi secara bermakna.
Efek ini bahkan terlihat pada pasien pra-operasi, ibu hamil dengan hipertensi ringan, hingga pasien yang mengalami kecemasan tinggi.
Dalam pembahasannya, peneliti menyarankan kombinasi ruqyah sebelum dilakukan terapi bekam.
Ruqyah terlebih dahulu membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi stres, lalu bekam bekerja pada sisi sirkulasi darah dan stabilisasi tubuh secara fisik.
Kombinasi ini disebut berpotensi memberi efek lebih maksimal terhadap kesehatan jantung dan tekanan darah.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa bekam tetap harus dilakukan secara benar, higienis, dan memperhatikan kondisi pasien.
Mereka mengingatkan pentingnya sterilisasi alat, pemilihan titik bekam yang tepat, dan pemeriksaan kondisi kesehatan sebelum tindakan dilakukan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa bekam bukan sekadar terapi tradisional (alternatif) yang biasa atau kuno.
Di mata para peneliti, bekam mulai berkembang menjadi pendekatan kesehatan holistik yang menggabungkan aspek medis, relaksasi, sirkulasi darah, hingga ketenangan psikologis dan spiritual sekaligus.
Dengan semakin banyaknya penelitian ilmiah yang mendukung manfaat bekam, terapi suna ini kini tidak lagi dipandang sebelah mata.
Di tengah mahalnya biaya kesehatan modern dan tingginya angka hipertensi, bekam mulai hadir sebagai alternatif terapi yang terjangkau, menenangkan, dan semakin dipercaya masyarakat luas.
Unduh Jurnal Ilmiah: Terapi Islam Komplementer untuk Kardiovaskular Pengaruh Bekam dan Ruqyah terhadap Tekanan Darah, Detak Jantung dan HRV
Related Articles
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi bekam berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus.
Bekam atau hijamah (bahasa Arab) kembali menjadi sorotan di tengah tren gaya hidup sehat masyarakat modern.
Diabetes melitus menjadi salah satu penyakit kronis yang terus meningkat jumlah penderitanya di seluruh dunia.